ANAK ANGKAT DAN HUKUMNYA

Oleh
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam bagi RasulNya, keluarga beliau serta sahabatnya, wa ba’du

KomitI Tetap Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa telah membaca pertanyaan dari seketari pelaksana Dewan Punjab untuk Kesejahteraan Anak, yang ditujukan kepada Ketua Bagian Riset Ilmiah, Fatwa dan Dakwah, yang dilimpahkan kepadanya dari Sekertaris Jenderal Majlis Ulama Besar no. 86/2 tanggal 15/1/1392H, yang isinya meminta penjelasan lebih jauh tentang aturan serta kaedah-kaedah berkenaan dengan hak anak angkat di dalam masalah waris?

Jawapan
Pertama :AnakAdopsi anak sudah dikenali sejak zaman jahiliyah sebelum ada risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu anak angkat dinasabkan kepada ayah angkatnya, boleh menerima waris, dapat menyendiri dengan anak serta isterinya, dan isteri anak angkat haram bagi ayah angkatnya. Secara umum anak angkat layaknya anak kandung di dalam segala urusan. Nabi pernah mengambil Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al-Kalbi sebagai anak angkat sebelum beliau menjadi Rasul, sehingga dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Tradisi ini berlanjutan dari zaman jahiliyah sehinga tahun ketiga atau ke empat Hijriyah.

Kedua : Kemudian Allah memerintahkan anak-anak angkat untuk dinasabkan kepada bapak mereka (yang sebenarnya) bila diketahui, tetapi jika tidak diketahui siapa bapak yang asli, maka mereka sebagai saudara seagama dan kesetian mereka bagi pengadopsi juga orang lain. Allah mengharamkan anak angkat dinasabkan kepada ayah angkat secara hakiki, bahkan anak-anak juga dilarang bernasab kepada selain bapak mereka yang asli, kecuali sudah terlanjur salah di dalam pengucapan. Allah mengungkapkan hukum tersebut sebagai bentuk keadilan yang mengandungi kejujuran di dalam perkataan, serta menjaga keharmonian nasab, juga menjaga hak harta bagi orang yang berhak memilikinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Ertinya : Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu sahaja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama-nama bapak mereka, itulah yang lebih baik dan adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadaap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab : 4-5)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Ertinya : Barangsiapa yang disebut bukan kepada bapaknya atau berafiliasi bukan kepada walinya, maka baginya laknat Allah yang berkelanjutan” (Hadits Riwayat Abu Daud)

Ketiga : Dengan keputusan Allah yang membatalkan hukum angkati anak (iaitu pengakuan anak yang tidak sebenarnya alias bukan anak kandung) dengan keputusan itu pula Allah membatalkan tradisi yang berlaku sejak zaman jahiliyah hingga awal Islam berupa.

(1). Membatalkan tradisi pewarisan yang terjadi antara ayah angkat dan anak angkat yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Dengan kewajipan berbuat baik antara keduanya serta berbuat baik terhadap wasiat yang ditinggalkan setelah kematian ayah angkat selama tidak lebih daripada sepertiga bahagian dari hartanya. Hukum waris serta golongan yang berhak menerimanya telah dijelaskan secara terperinci di dalam syari’at Islam. Dalam rincian tersebut tidak disebutkan adanya hak waris di antara keduanya. Dijelaskan pula secara global perintah berbuat baik dan sikap ma’ruf dalam bertindak.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Ertinya : Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama)” (Al-Ahzab : 6)

(b). Allah membolehkan ayah angkat nikah dengan bekas isteri anak angkat setelah berpisah darinya, walaupun diharamkan di zaman jahiliyah. Hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah sebagai penguat keabsahannya sekaligus sebagai penghapus adat jahiliyah yang mengharamkan hal tersebut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Ertinya : Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” (Al-Ahzab : 37)

Nabi menikahi Zaenab binti Jahsy atas perintah Allah setelah suaminya Zaid bin Haritsah menceraikannya.

Keempat : Daripada huraian diatas, maka menjadi jelas bahawa pembatalan terhadap hukum angkat bukan bererti menghilangkan makna kemanusiaan serta hak manusia berupa persaudaraan, cinta kasih, hubungan sosial, hubungan kebajikan dan semua hal berkaitan dengan semua perkara yang luhur, atau mewasiatkan perbuatan baik.

(a). Seseorang boleh memanggil kepada yang lebih muda daripadanya dengan sebutan “wahai anakku” sebagai ungkapan kelembutan, kasih sayang, serta perasaan cinta kasih sayang kepadanya, agar dia merasa nyaman dengannya dan mendengarkan nasihatnya atau memenuhi keperluanya. Boleh juga memanggil orang yang usianya lebih tua dengan panggilan, “wahai ayahku” sebagai penghormatan terhadapnya, mengharap kebaikan serta nasihatnya, sehingga menjadi penolong baginya, agar budaya sopan santun merebak dalam masyarakat, hubungan antara individu menjadi kuat hingga satu sama lain saling merasakan persaudaraan seagama yang sejati.

(b). Syari’at Islam telah menganjurkan untuk tolong-menolong dalam rangka kebajikan dan ketakwaan serta mengajak semua manusia berbuat baik dan menebarkan kasih sayang.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Ertinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaijkan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Al-Maidah : 2)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Ertinya : Peumpamaan orang-orang mukmin dalam masalah kecintaan dan kasih sayang serta pertolongan di antara mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu organ mengeluh kesakitan, nescaya seluruh tubuh ikut panas dan tidak dapat tidur” (Hadits Riwayat Ahmad dan Muslim)
Dan sabda beliau.

“Ertinya : Seorang mukmin terhadap orang mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan sebahagiannya menopang sebagian yang lain” (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Termasuk di dalam hal tersebut mengurusi anak yatim, fakir miskin  dan anak-anak yang tidak mempunyai orang tua, iaitu dengan mengasuh dan berbuat baik kepadanya. Sehingga di masyarakat tidak terdapat orang yang terlantar dan tidak terurus. Ini kerana ditakuti umat akan ditimpa akibat buruk daripada buruknya pendidikan serta sikap kasarnya, ketika dia merasakan perlakuan kasar serta sikap acuh dari masyarakat.

Kewajipan pemerintah Islam adalah mendirikan tempat bagi orang tidak mampu, anak yatim, anak pungut, anak tidak berkeluarga dan yang senasib dengan itu. Bila kewangan Baithul Mal tidak mencukupi, maka boleh meminta bantuan kepada orang-orang mampu dari kalangan masyarakat, sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ertinya : Siapapun seorang mukmin mati meninggalkan harta pusaka, hendaklah diwariskan kepada ahli warisnya yang berhak, siapapun mereka. Tetapi jika meninggalkan hutang atau kerugian hendaklah dia mendatangiku, kerana aku walinya” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Inilah yang disepakati bersama, semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad , keluarga serta sahabatnya.

(Komisi Tetap Untuk Fatwa, Fatawa Islamiyah 4/497)

(Disalin dari kitab Fatawa Ath-Thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu)

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1929&bagian=0

Advertisements

7 thoughts on “ANAK ANGKAT DAN HUKUMNYA

  1. kalau kita ambik anak anak angkat luar nikah kemudian kita susukan bayi tu..batasaurat bayi tu dengan saya tentunya muhrim tapi bagaimana pula dengan suami saya?

    Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Ya, suami puan pun menjadi mahramnya, kerana mahram susuan sama seperti mahram yang lain.

  2. assalamualaikum… saya insan yang lemah… saya mempunyai ayah angkat… tapi setiap kali saya jumpa dengan ayah angkat saya, dia akan mencium dahi saya dan memeluk saya.. adakah ini haram di sisi islam???

    Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.

    Ya, haram kerana hubungan adalah bukan mahram.

    Wallahua’lam.

  3. apa hukum aurat bagi anak angkat yg mendapat penyusuan daripada kakak kandung bapa angkat??

    Assalamualaikum wbt.
    Mereka adalah mahram, kerana hukum penyusuan sama seperti hukum mahram yang lain.

  4. assalamualaikum…sah ke doa daripada anak angkat kepada arwah emak dan ayah angkat yang dah meninggal? anak angkat ini soleh hasil didikan keluarga angkat. saya keliru…ada rakan mengatakan tidak sampai / tidak sah doa dari anak angkat. walau anak angkat hafazan sekalipun, doa tetap tidak sampai. hrp dpt berikan saya kepastian dalam hal ni.
    terima kasih

  5. assalamualaikum…sah ke doa daripada anak angkat kepada arwah emak dan ayah angkat yang dah meninggal? anak angkat ini soleh hasil didikan keluarga angkat. saya keliru…ada rakan mengatakan tidak sampai / tidak sah doa dari anak angkat. walau anak angkat hafazan sekalipun, doa tetap tidak sampai. hrp dpt berikan saya kepastian dalam hal ni.
    terima kasih

    Cempaka,

    Waalaikumussalam wbt.

    Insya-allah doanya sampai, tidak menjadi masalah kita mendoakan emak angkat hatta sesiapa sahaja sama ada kawan kita, dan lain-lain. Bukankah kita selalu mendoakan keampunan untuk umat Islam sama ada yang masih hidup dan telah mati.

    Wallahua’lam

  6. saya telah mengambil anak angkat lelaki tetapi tidak menyusukannya. pada ketika itu hanya adik perempuan suami saja yang boleh menyusu tika itu. adakah selepas anak angkat saya disusukan oleh adik perempuan suami saya, adakah aurat saya dan anak lelaki saya itu sah?

  7. Assalamualaikum w.b.t

    Jika bayi itu lelaki, dan disusukan adik perempuan suami puan, maka dia jadi mahram kepada adik perempuan suami puan, tetapi tetap bukan mahram puan.

    Begitu juga, jika bayi itu perempuan, dan disusukan oleh adik perempuan suami puan, bayi itu menjadi mahram kepada suami puan.

    Pendek kata, jika dia disusukan oleh ipar puan, maka ia tidak mengubah apa-apa status hubungannya dengan puan. Ia tetap bukan mahram. Sama seperti hubungan puan dengan anak-anak buah suami puan, mereka tetap bukan mahram puan.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s