Isteri Menolak Tinggal Bersama Keluarga Suaminya

 

Syaikh Ibnu Utsaimin

Pertanyaan:
Ada seorang pemuda berumur 23 tahun,d ia menikah dengan seorang gadis, yaitu puteri pakciknya sendiri (puteri dari saudara kandung ayahnya). Selama kurang lebih 4 bulan setelah menikah dia dan isterinya tinggal di rumah ayahnya. Dia berkata, “Pada suatu hari terjadi salah faham antara isteri saya dengan keluarga saya, maka isteri saya pergi ke rumah ayahnya, sesudah itu dia meminta kepada saya supaya menyewa apartement agar saya dan isteri boleh tinggal terpisah dan dapat menghindari berbagai masalah, atau tinggal di rumah ayahnya (ayah isterinya) dengan syarat hubungan saya dengan keluarga saya sendiri tidak putus dan saya boleh menanyakan terus tentang mereka. Kemudian saya menyetujuinya dan saya beritakan kepada keluarg saya, namun mereka menolaknya, bahkan mereka bersikeras agar saya tetap tinggal bersama mereka. Apakah saya berdosa apabila saya menyalahi keinginan keras mereka dan saya bersama isteri tinggal di apartement mertua?”

Jawapan:

Masalah yang satu ini sering terjadi antara keluarga suami dengan isterinya. Hal yang mesti dilakukan suami dalam keadaan seperti ini adalah berusaha keras melunakkan sikap antara isteri dan keluarganya dan menyatukannya kembali semaksima mungkin, menegur siapa saja di antara mereka yang zhalim dan melanggar hak saudaranya. Akan tetapi hal itu mesti dilakukan dengan cara yang baik dan lemah lembut sehingga rasa cinta kasih dan kebersamaan dapat tercapai kembali, kerana cinta kasih dan kebersamaan itu semuanya adalah baik.

Namun jika usaha ishlah (mengadakan perbaikan) itu belum dapat dicapai, maka tidak ada apa-apa masalah (tinggal bersama isteri) di tempat yang lain terpisah dari mereka. Alternatif seperti ini adakalanya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi semua pihak sampai perasaan yang timbul di dalam hati sebahagian mereka terhadap sebahagian yang lain itu hilang. Jika ini adalah pilihannya, maka dia (suami) jangan memutus hubungan silaturrahmi dengan keluarga, akan tetapi selalu melakukan hubungan dengan mereka; dan sebaiknya rumah tempat tinggalnya bersama isteri itu dekat dari rumah keluarga, sehingga mudah untuk melakukan perhubungan dan menghubungi mereka. Apabila dia dapat melakukan kewajipannya terhadap keluarga dan terhadap isterinya sekalipun dia tinggal hanya dengan isterinya di suatu tempat, kerana tidak mungkin tinggal bersama keluarga di satu tempat, maka yang demikian itu lebih baik.

 

Rujukan:
Syaikh Ibnu Utsaimin: Nur ‘alad Darb, hal. 50-51.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq. 

Advertisements

One thought on “Isteri Menolak Tinggal Bersama Keluarga Suaminya

  1. ape hukum tinggal sebumbung dengan keluarga mertua? betul ke islam tak menggalakkan perkara ini? boleh terangkan dengan lebih terperinci kenapa.. ade dalil or hadith ke.. thanx

    Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

    Jika di rumah mertua ada ipar duai kita, ia akan menyusahkan kita kerana mereka adalah bukan mahram kita. Ia menyebabkan kita terpaksa menutup aurat dan lain-lain. Begitu juga mereka wajib menutup aurat apabila kita ada di rumah tersebut.

    Jadi seeloknya tidak tinggal serumah.

    Wallahua’lam.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s