Melampau dalam melaksanakan sunnah

Pertanyaan:

Sebelumnya saya mohon maaf jika pertanyaan saya agak pelik, tetapi ini penting dalam rangka menegakkan sunnah rasul,

Saya telah memulai memanjangkan janggut, tiap jumaat mencukur bulu ketiak dan yang lain, celana saya sudah saya potong rapi di atas buku lali. Ketika habis salat saya tidak lagi menyalami yang di samping saya, saya juga tidak lagi membaca amalan setelah sholat, pokoknya fiqih sehari-hari yang dicontohkan rasul saya cuba amalkan, termasuk makan sayur sup pun saya tidak mau, kerana tidak boleh diambil menggunakan 3 jari, saya makan selalu duduk di bawah bukan lagi di atas meja. Pakaian saya tinggal yang putih bersih, yang lain saya bakar, kerana tidak baik sodaqoh dengan barang yang tidak baik.

Pertanyaan saya sekarang adalah saya harus pakai pakaian dalam atau tidak ya, ustadz? Adakah ahadits dan contoh tentang jenis pakaian dalam yang dipakai rasulullah? Kalau saya pakai tetapi rasul tidak pakai, nanti saya takut sesat, atau saya tak pakai tetapi rasul pakai, sesat juga, sedang saya belum dapatkan hujjah tentang itu.
sekian wassalam

narimo

Jawapan:

Assalamu alaikum wr.wb.


Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua

Segala puja dan syukur kita kepada Allah yang telah menunjukkan kita kepada Islam, yang merupakan nikmat yang ter-agung, tiada nikmat yang lebih besar dari nikmat hidayah (petunjuk) memeluk agama Islam. Namun, betapa banyak umat Islam sekarang yang sudah jauh meninggalkan ajarannya. Oleh kerananya Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam, yaitu dengan berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah. Tidak boleh hanya al-Quran saja, atau sunnah saja. Kerana sunnah Rasulullah adalah sebagai penjelasan terhadap apa yang ada dalam Al-Quran.
Jadi, setiap muslim yang ingin dirinya bahagia, selamat di dunia dan akhirat, dia harus mentaati apa yang menjadi pesan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw. sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang ertinya: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengn keduanya, maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu kitabullah (al-Quran) dan sunnahku. Yang kemudian keduanya adalah disebut sumber syariat Islam.

 
Bagaimana seorang muslim boleh mengamalkan ajaran-ajaran yang ada dalam Al-Quran dan sunnah (syariat Islam)? Jawapanya dia wajib belajar. Belajar kepada orang yang mempunyai kemampuan memahami al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw (Syariat Islam) secara baik dan benar, atau boleh juga dengan banyak membaca buku-buku tentang Islam. Dengan demikian dia akan mempunyai pengetahuan tentang Islam secara luas, baik, dan kemudian dia amalkan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait dengan Sunnah Rasul saw. maka ia adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan, baik yang berhubungan dengan masalah aqidah, ibadah, muamalah (sosial), akhlak. Secara umum semua itu disebut sebagai sunnah, yang ertinya jalan yang ditempuh oleh Rasulullah. Ketika seorang muslim beramal sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah, maka muslim tersebut disebut sebagai orang yang menjalankan sunnahnya.

Hanya saja, apakah seluruh sunnah beliau kemudian perlu diikuti? Tentu saja tidak demikian kerana kita hidup dalam satu keadaan dan keadaan yang berbeza dengan keadaan saat Rasulullah saw. hidup. Kalau kita perlu mengikuti Rasulullah secara keseluruhan, bererti kita harus merubah segala bentuk dan gaya hidup kita saat ini. Misalnya bentuk rumah harus diubah, alasnya harus tanah, kenderaannya unta atau kuda, makanannya kurma atau gandum, pakaiannya harus gamis atau jubah, selalu memakai pedang,  salatnya di masjid yang hanya beratapkan pelepah kurma dan tanpa pengeras suara, dan seterusnya. Hal ini tentu saja memberatkan. Kerana itu ada beberapa kaedah yang harus kita pahami dalam mengikuti sunnah Rasul saw.

 

1. Tidak semua Sunnah Rasul saw. hukumnya Wajib

 

 Dr. Yusuf al-Qaradhawi berpendapat bahawa Sunnah Rasul baru menjadi wajib untuk dilakukan jika memang ada perintah yang bersifat tegas yang disertai ancaman bagi yang meninggalkannya. Misalnya terkait dengan makan dengan tangan kanan.Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian makan, hendaknya dengan tangan kanan dan minum juga dengan tangan kanan. Sebab, syaitan makan dan minum dengan tangan kiri.” (Muwaththa Malik) Penyerupaan dengan syaitan ini menunjukkan indikasi yang tegas bahawa makan dengan tangan kiri tersebut sangat buruk dan dilarang.

 

Adapun kalau tidak disertai ancaman, maka ia hanya bersifat anjuran dan mustahab. Misalnya terkait dengan anjuran untuk memakan apa yang letaknya dekat dengan kita sebagaimana diriwayatkankan oleh Abu Nuaim bahawa Rasulullah saw. bersabda, “Sebutlah nama Allah dan makanlah yang letaknya dekat denganmu.” (HR al-Bukhari).

 

Dalam hal ini, memakai pakaian putih, memakan dengan tiga jari, dan perbuatan lain yang dilakukan oleh Rasulullah, selama tidak disertai perintah yang keras, maka ia hanya berupa anjuran.

 

2. Pada dasarnya segala sesuatu di luar ibadah adalah boleh dan halal selama tidak ada larangan.

 

Bagaimana tidak, sebab Allah telah menciptakan segala sesuatu di alam ini untuk manusia. Allah befirman,

 

Dialah yang telah menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang terdapat di bumi (QS al-Baqarah: 29).

 

Tidaklah kalian melihat bahawa Allah telah menundukkan untuk kalian segala yang terdapat di langit dan di bumi serta menyempurnakan nikmat-NYa untuk kalian baik yang lahir maupun yang batin. (QS Luqman: 20)

 

Dengan demikian, bagaimana mungkin segala sesuatu yang Allah tundukkan dan halalkan bagi kita lalu manusia haramkan untuk dirinya?! Satu kali Rasul saw. ditanya tentang keju, dan jubah dari kulit binatang, lalu beliau menjawab, “Yang halal adalah yang Allah halalkan dalam kitab suci-NYa, dan yang haram adalah yang Dia haramkan dalam kitab suci-Nya, sementara yang didiamkan adalah termasuk yang dimaafkan (boleh) untuk kalian. (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

Ibn Taymiyah juga berpendapat, “Tingkah laku manusia, baik berupa perkataan maupun tindakan ada dua macam: ibadah yang dengannya ia memperbaiki agama dan tradisi yang dengannya ia membangun dunia. Dengan mencermati prinsip ajaran syariat  kita memahami bahawa ibadah yang diwajibkan dan dianjurkan oleh Allah hanya boleh ditunaikan dengan landasan syariat. Adapun adat istiadat sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat prinsip dasar hukumnya tidak terlarang. Tidak ada larangan padanya kecuali yang Allah larang.” (al-Qawa’id al-Nuraniyah al-Fiqhiyyah, hal 112-113)

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Wassalamu alaikum wr.wb.  

http://syariahonline.com/new_index.php/id/17/cn/26406

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s