Penjelasan : Dan Segala Sesuatu Telah Kami Terangkan Dengan Sejelas-Jelasnya

Penjelasan : Dan Segala Sesuatu Telah Kami Terangkan Dengan Sejelas-Jelasnya

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Syaikh yang kami muliakan ! Kami mohon keterangan dan penjelasan daripada anda terhadap ayat-ayat dan hadits berikut ini.

Ertinya : “Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan sejelas-jelasnya” (Al-Isra : 12).

Ertinya : “Tidak kami tinggalkan di dalam Al-Kitab ini sesuatupun (tidak ada satupun yang tidak kami tulis di dalam kitab ini)” (Al-An’am : 38).

Ertinya : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini hujungnya ada di tangan Allah dan hujung satunya lagi ada di tangan kalian. Maka berpegang teguhlah kalian dengan Al-Qur’an, sebab kalian tidak akan sesat dan tidak akan binasa selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengannya” (Shahih Targhib wa Tarhib 1/93/35).

Jawapan:
Adapun ayat.

Ertinya : “Tidak satupun yang tidak kami tulis di dalam Al-Kitab” (Al-An’am : 38).

Yang dimaksud “kitab” di dalam ayat ini adalah lauh mahfudz (tempat Allah menulis semua kejadian), bukan Al-Qur’anul Karim.

Tentang ayat.
Ertinya : “Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan sejelas-jelasnya” (Al-Isra : 12).

Menurut keterangan daripada Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan Hadits) makna dari ayat ini ada dua macam.

(1). Secara tafshil, yaitu terperinci (seperti : Shalat, zakat, haji, dan seterusnya, -pent-)
(2). Secara mujmal, yaitu garis besarnya saja atau kaedah-kaedah/batasan-batasannya saja, (seperti masalah arak, masalah bid’ah, tasyabuh, dan lain-lain, -pent-)

Rasulullah SAWbersabda.

Ertinya : “Tidak ada satupun perintah Allah yang belum aku sampaikan kepada kalian, begitu juga tidak ada satupun larangan Allah yang belum aku sampaikan kepada kalian” (Ash-Shahihah No. 1803).

Padahal kalau kita lihat hari ini, jenis arak dan bid’ah barangkali jumlahnya mencapai puluhan bahkan mungkin ratusan. Apakah puluhan khamr dan ratusan bid’ah ini semuanya diterangkan oleh Rasulullah SAW satu persatu ? Ternyata tidak, Rasulullah SAW  hanya mejelaskan kaedah dan batasan-batasannya sahaja. Di antara hadits-haditsnya adalah :

Ertinya : “Tidak boleh menimpakan bahaya kepada diri sendiri dan kepada orang lain” (Shahihul Jaami’ No. 7517).

Ertinya : “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram” (Irwa’ul Ghalil 8/40/2373).

Ertinya : “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat pasti di neraka”. (Shahih Targhib wa Tarhib 1/92/34).

Inilah kaedah-kaedah umum yang bersifat luas dan menyeluruh yang datang dari Rasulullah SAW. Dengan kaedah-kaedah seperti ini maka seluruh permasalahan yang menyangkut tentang arak, bid’ah, perbuatan yang membahayakan keselamatan diri sendiri, dan lain-lain, semua boleh kita tentukan hukumnya satu persatu.

Hal ini betul-betul menunjukkan bahawa Allah dan Rasul-Nya SAW telah menerangkan segala hukum syar’i dengan sejelas-jelasnya. Tetapi sekali lagi, keterangan-keterangan tersebut kadang-kadang hanya berupa kaedah-kaedah dan batasan saja. Tidak diperincikan satu persatu.

Adapun tentang hukum-hukum fiqih seperti tata cara wudhu, shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain, semuanya sudah dijelaskan dan dicontohkan secara terperinci di dalam sunnah. Bahkan kadang-kala dijelaskan langsung oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Misalnya tentang hukum faraidh (pembahagian warisan).

Tentang darjat hadits yang ditanyakan di atas, hadits tersebut shahih. Mengamalkan hadits tersebut adalah dengan cara berpegang teguh dengan Al-Qur’an. Di mana disebutkan di dalam hadits tersebut bahawa Al-Qur’an merupakan tali yang hujungnya ada di tangan Allah dan hujung satunya lagi ada di tangan kita. Dan kita mesti tahu bahawa kita tidak mungkin boleh berpegang teguh dengan Al-Qur’an tanpa mempelajari dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW berupa hadits-hadits yang shahih.

Sebagaimana disabdakan beliau SAW:
Ertinya : “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh kepada dua perkara tersebut, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul” (Misykatul Mashabih 1/66/186).

(Disalin kitab Kaifa Yajibu ‘Alaina Annufasirral Qur’anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur’an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz).

Kategori: Al-Qur’an – Tanya Jawab
Sumber: http://
www.almanhaj.or.id
Tanggal: Jumat, 27 Februari 2004
06:54:18 WIB

Produced by SalafiDB 3.0 (freeware)
http://salafidb.googlepages.com

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s