APAKAH BOLEH MEMUTLAKKAN (GELAR) SYAHID KEPADA SESEORANG TERTENTU (MU’AYAN) DAN DIKATAKAN ASY-SYAHID FULAN

APAKAH BOLEH MEMUTLAKKAN (GELAR) SYAHID KEPADA SESEORANG TERTENTU (MU’AYAN) DAN DIKATAKAN ASY-SYAHID FULAN

 

Soalan Kepada Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin :

Apakah boleh memutlakkan (gelaran) Syahid kepada individu tertentu dan dikatakan asy-Syahid Fulan?

Jawaban tertanggal 27-05-2003 pukul 09.39

 

Asy-Syaikh menjawab :

Tidak diperkenankan bagi kita mempersaksikan kepada individu tertentu (mu’ayan) dengan menyatakan dia syahid, hingga sekalipun orang itu mati terbunuh dengan cara dizalimi atau dia mati dalam keadaan mempertahankan kebenaran, tidak diperkenankan kita mengatakan Fulan Syahid. Walaupun hal ini menyelisihi dengan apa yang ada pada manusia hari ini, yang mereka mempermudah pemberian syahadah (kesaksian syahid) ini dan mereka menjadikan setiap orang yang terbunuh walaupun dia mati terbunuh dalam cabang kejahiliyahan, dengan tetap menggelari mereka dengan syahid. Hal ini adalah haram, ini kerana perkataanmu terhadap seseorang yang terbunuh dengan (sangkaan) syahid memerlukan syahadah (persaksian) yang kelak engkau akan ditanya tentangnya pada hari kiamat dan juga kelak dikatakan kepadamu, apakah engkau memiliki ilmu (pengetahuan) bahawasanya dia terbunuh dalam keadaan syahid?

Oleh kerana itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tidaklah dari seorang yang terluka yang berperang di jalan Allah dan Allahlah yang lebih mengetahui tentang siapakah yang benar-benar terluka berperang di jalan-Nya hingga datang hari kiamat, yang (menunjukkan) lukanya mencucurkan darah, warnanya berwarna darah dan baunya harum seperti kasturi.” Maka perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, “dan Allahlah yang lebih mengetahui tentang siapakah yang benar-benar terluka berperang di jalan-Nya.”

Ini kerana sesungguhnya sebahagian manusia kadang-kala nampak pada zahir mereka berperang untuk meninggikan kalimat Allah, akan tetapi Allah lebih mengetahui apa yang berada di dalam hatinya dan boleh jadi apa yang ada di dalam hatinya menyelisihi apa yang dinampakkan perbuatannya.

Adalah imam Bukhari –semoga Allah merahmatinya- membuat suatu bab tentang masalah ini dalam shahihnya dengan “Bab tidak mengatakan Fulan Syahid”, ini kerana sesungguhnya tempatnya persaksian adalah di dalam hati, dan tidak ada satupun yang mengetahui isi hati kecuali Allah –Azza wa Jalla-, dan perkara niat adalah perkara yang besar/agung. Betapa dua orang lelaki melaksanakan sebuah perkara namun diantara keduanya bagaikan langit dan bumi, yang demikian ini dikarenakan niat.

Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, “Sesungguhnya tiap-tiap amal tergantung niatnya dan tiap-2 orang adalah apa yang ia niatkan, barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah karena Allah dan Rasul-Nya, barangsiapa yang berhijra untuk menggapai dunia atau menikahi wanita, maka hijhrahnya adalah pada apa yang ia niatkan.”

Dialihbahasakan dari sahab.net secara bebas oleh Abu Salma bin Burhan dari sahab.net

abu salma 

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s