Orang Beriman Seperti Pokok Kurma

Mukmin dan Pohon Kurma 

oleh Kholid bin Syamhudi Al Bantaniy

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang meneka yang ia pokoko di wadhi. Berkata Abdullah: “Lalu terdetik di dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya”. Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasululloh beritahulah kami pohon apa itu?” Lalu baginda menjawab: Iia adalah pohon kurma”.

 

Takhrij

 

Hadits ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhori di dalam shohihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no. 61 (1/145-Fathul Bariy) dan Muslim dalam shohihnya kitab Sifatul Munafiqin bab Mitslul mukmin matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawiy)

 

Syarah Mufradat Hadits.

 

1. إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ   :

terdapat persamaan dan penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang tidak gugur daunnya, iaitu pohon kurma                                                

2.  فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي  :

akal fikiran mereka menerawang kepada pepohonan di wadhi. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis pepohonan tersebut, namun lupa dengan pohon kurma[1]

3. الْبَوَادِي : b

entuk jamak dari Badiyah yang bermakna dataran luas yang ada padanya tumbuhan dan air.[2]

4.  قَالَ عَبْدُ اللَّهِ :

Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasululloh.  

5. فَاسْتَحْيَيْتُ  :

sebab malu beliau, kerana beliau paling kecil daripada para sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat al-Bukhoriy di kitab Al Ath’imah: “Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang paling kecil”.                                                                                                                                                                

6.  هِيَ النَّخْلَةُ   :

pohon kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga dijadikan sebagai permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan Allah memberikan permisalahan kalimat thoyibah dengan pohon ini dalam firmannya:

 

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)

 

Ibnu Hajar berkata: “Imam al-Bukhori telah membawakan hadits ini juga dalam tafsir firman Allah:

         أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَة                                                                                                                                                                  

Sebagai isyarat dari beliau bahawa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang tegas dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa bin ‘Uqbah dari Naafi’ dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasululloh n membaca ayat ini dan bersabda: “Apakah kalian tahu pohon apakah itu?” Ibnu Umar menyatakan: “jelas itu adalah pohon kurma, namun usiaku yang kecil menahanku untuk berbicara”. Lalu Rasululloh berkata: “ia adalah pohon Kurma”.[3]

 

Dengan demikian, Pohon yang baik disini ditafsirkan dengan pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak ulama salaf, di antaranya: Ibnu Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu Zaid.[4] Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan daripada jalan periwayatan Abdul Aziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari ibnu Umar bahawa Rasulullah bersabda:

مَنْ يُخْبِرُنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِيْ السَّمَاءِ

“Siapakah yang dapat menyebutkan kepadaku satu pohon yang menyerupai seorang mukmin, pokok batangnya kukuh dan cabangnya menjulang kelangit?”.[5]

Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki keutamaan, ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat diatas. Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalahan seorang muslim menunjukkan ketinggian dan keistimewaannya.

 

Syarah Hadits.

Nabi di dalam hadits ini memberikan permisalan dan menyerupakan seorang muslim dengan pohon kurma. Tentunya hal ini menunjukkan adanya sisi kesamaan antara keduanya. Memang untuk mengenali dan mengetahui sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup, apalagi Allah telah menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat kepadaNya, sebagaimana firmanNya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)

 

Diantara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma adalah:[6] :

 

1.         Pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah amalan sholeh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin didunia dan akhirat.

 

Imam Ahmad berkata: “perumpamaan iman seperti pohon kerana pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya demikian juga. Sedangkan buahnya adalah sikap wara’ (hati-hati). Tidak ada kebaikan pada pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya sifat wara’”.[7]

 

Imam Al Baghawiy menyatakan: “Himah daripada penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan sebagai pohon (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat, batang yang kukuh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna iman kecuali dengan tiga hal, iaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan anggota tubuh”.[8] Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini di dalam pernyataan beliau: “Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon di hati, cabangnya adalah amalan dan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan nikmat yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan syurga tidak terputus dan tidak terhalang daripada mengambilnya, maka buah tauhid dan ikhlas di duniapun sedemikian. Adapun kesyirikan, dusta dan riya’ adalah satu pohon di hati, buahnya di dunia perasaan takut, sedih, duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya di akhirat buah zaqqum dan adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan Allah dalam surat Ibrohim”.[9]

  1. Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh kerana itulah Allah menamakan wahyu dengan ruh dalam firmanNya:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. 42:52) dan firmanNya:

 

يُنَزِّلُ الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاتَّقُونِ

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu:”Peringatkanlah olehmu sekalian,bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku”. (QS. 16:2), kerana kehidupan hakiki bagi hati tidak wujud tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia dikatakan mayat walaupun bergerak di antara manusia. Allah berfirman:

 

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَاكاَنُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gelita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122).

Di sini jelas sekali sisi persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air dan hati seorang mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.

  1. Pohon kurma sangat kukuh, sebagaimana firmanNya:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim 24-25)

 

Demikian juga iman jika telah mengakar didalam hati, maka menjadi sangat kukuh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kukuhnya gunung yang besar menjulang.

 

Imam Al ‘Auzaa’iy ditanya tentang iman, apakah bertambah? Beliau menjawab: “Ya, sehingga membesar seperti gunung”. Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: “Ya, sehingga tidak bersisa sedikitpun”.[10] Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang hal yang serupa dan menjawab: “Bertambah sehingga mencapai lebih tinggi daripada langit yang tujuh dan berkurang sehingga menjadi paling rendah daripada bumi yang ketujuh”.[11]

  1. Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sebarangan tanah, bahkan hanya tumbuh di tanah tertentu yang subur sahaja. Pohon kurma di sebahagian tempat tidak tumbuh sama sekali, disebahagian lainnya tumbuh namun tak berbuah dan disebahagian lain tumbuh berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga tidak semua tanah sesuai untuk pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kukuh pada semua hati. Ia hanya akan kukuh pada hati orang yang Allah berikan hidayah dan berlapang dada menerimanya. Sehingga tepatlah bila Rasulullah  bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari Allah adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bum. Ada diantara tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada juga ajaadib, menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia. Mereka minum, mengambil dan bercucuk tanam. Air hujan ini juga menimpa sejenis tanah lain yaitu Qii’aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan rumputan. Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) di dalam agama dan mengambil manfaat darinya.DiIa mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan orang yang tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.[12]

  1. Pohon kurma tidak dapat bercampur dengan tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat mengganggu dan melemahkan pertumbuhannya serta mengganggunya di dalam menyerap air. Oleh kerana itu diperlukan perawatan khusus dan selektif daripada pemiliknya. Demikian juga seorang mukmin, pasti menemui hal-hal yang dapat melemahkan iman dan keyakinannya. Juga pasti menemui perkara yang dapat mendesak iman daripada hatinya. Oleh kerana itu diperlukan bermuhasabah di dalam setiap waktu dan bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan lain-lainnya. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69).                                                                         

  1. Pohon kurma memberikan hasilnya setiap waktu, sebagaimana firman Allah :

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya. (QS. Ibrohim 24-25).

 

Buah pohon ini dimakan waktu siang dan malam, baik di musim dingin atau di musim panas. Dimakan di dalam bentuk kurma (tamar) atau busr atau Ruthab.[13] Demikian juga seorang mukmin, amalan mereka naik pada pagi dan malam hari. Rabi’ bin Anas menyatakan: “Makna firman Nya: كُلَّ حِينٍ adalah setiap pagi dan malam hari kerana buah kurma selalu dapat dimakan di waktu malam dan siang, baik musim dingin atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga amalan seorang mukmin naik pada pagi dan malam harinya”[14]

 

Ibnu Jarir Ath Thobariy menyatakan di dalam tafsir ayat ini: “Pendapat yang rajih menurutku adalah pendapat yang menyatakan, makna (كُلَّ حِينٍ ) di dalam ayat ini adalah pagi dan malam, setiap saat kerana Allah menjadikan hasil pohon ini setiap saat daripada buahnya untuk perumpamaan amalan dan perkataan seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan baik seorang mukmin diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun atau setengah tahun atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran pendapat ini. Jika ada yang bertanya: “Pohon kurma mana yang menghasilkan buah setiap saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun di musim dingin, maka Thol’ (mayang kurma) adalah buahnya dan di musim panas, maka balkh, busr, Ruthob dan kurma adalah buahnya. Jadi semuanya adalah buahnya”.[15]

  1. Pohon kurma memiliki barakah di dalam semua bahagiannya. Semua bahagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian juga seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah  :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ

Dari Abdillah bin umar beliau berkata: “Ketika kamu duduk-duduk disisi Rasulullah tiba-tiba diberikan jamaar (jantung kurma). Rasululloh lalu berkata: “Sesungguhnya terdapat satu pohon, barakahnya seperti barakah seorang muslim”. Lalu aku merasakan itu adalah pohon kurma lalu ingin aku sampaikan kepada dia bahawa ia adalah pohon kurma, wahai Rasululloh. Kemudian aku melihat dan mendapati aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu aku diam. Rasulullah berkata: “Ia adalah pohon kurma””.[16]

 

Ibnu Hajar berkata: “Barakah pohon kurma ada pada semua bahagiannya, senantiasa ada di dalam setiap keadaannya. Daripada mulai tumbuh sehingga kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian setelah itu seluruh bahagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sehingga bijinya digunakan sebagai makannan ternak. Demikian juga seabutnya dapat dijadikan sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga barakah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus menerus ada untuknya dan untuk orang lain sehingga setelah matinyapun”.[17]

  1. Pohon kurma disifatkan Rasulullah لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا . Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan di dalam riwayat Al haarits bin Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan lafadz:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ الشَجَرَةِ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ أَتَدْرُوْنَ مَا هِيَ قَالُوا لاَ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ وَ لَا تَسْقُطُ لَمُؤْمِنٍ دَعْوَةٌ

Kami berada bersama Rasulullah pada satu hari, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya permisalan seorang mukmin seperti permisalan pohon yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa itu?” Mereka berkata: “tidak” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma tidak gugur daunnya dan seorang mukmin tidak gugur do’anya”.[18]

 

Jadi jelaslah sisi persamaan di antara keduanya. Telah dimaklumi do’a telah disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaiman firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman:”Berdo’alah kepada-Ku,nescaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri daripada menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam di dalam keadaan hina dina”. (QS. 40:60)

 

Akan tetapi do’a akan dikabulkan dengan kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Kadang-kala tidak dikabulkan kerana tidak cukup sebahagian syaratnya atau kewujudann sebahagian penghalangnya. Adabnya yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan terkabulnya do’a  dan tekad/azam di dalam masalah tersebut.[19]

 

Ibnul Qayyim memberikan makna lain terhadap hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan pohon kurma menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur pada musim dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten memakai pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap rabbnya.[20]

  1. Pohon kurma disifatkan di dalam ayat dengan thoyiibah (baik). Ini meliputi baik di dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga meliputi baik di dalam rasa, buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin memiliki sifat baik di dalam segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun bathin. Oleh kerana itu ketika kaum mukminin masuk syurga terus disambut para malaikat penjaganya dengan menyatakan:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke syurga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:”Kesejahteraan (dilimpahkan) ke atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. 39:73)   dan firmanNya:

 

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

(iaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):”Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. 16:32) serta firman Allah :

 

 

إِنَّ اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ

Sesungguhnya Allah mamasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di syurga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang daipada emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.

Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. 22:23-24)

  1. Pohon kurma disifatkan dengan sabda Rasululloh:

إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ

Sesungguhnya permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu daripadanya, nescaya bermanfaat bagimu.[21] Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian juga seorang mukmin ketika bergaul dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia, adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memebrikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.

  1. Pohon kurma memiliki perbezaan antara satu dengan yang lainnya. Perbezaan di dalam bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak hanya satu tingkat dalam kebagusan dan kualiti, sebagaimana firman Allah :

وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَآءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan di bumi ini terdapat bahagian-bahagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama.Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu ke atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. 13:4)   demikianlah pohon kurma berbeza di dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari sebagian yang lainnya.

 

Demikian juga keadaan antaar kaum mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya dan tidak hanya satu tingkat di dalam iman. Allah berfirman:

 

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah kurnia yang amat besar. (QS. 35:32).

  1. Pohon kurma termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan ributnya. Kebanyakan tumbuhan tidak mampu sabar bertahan daripada kekeringan air seperti kesabaran pohon kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar di dalam menghadapi bala, malapetaka dan musibah. Berkumpul pada seorang mukmin kesabaran dengan ketiga jenisnya, iaitu sabar di dalam ketaatan Allah, sabar daripada kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat daripada Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)

 

Dan firmanNya:

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu”.Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. 39:10)

  1. Pohon kurma semakin tua semakin bertambah baik dan tinggi kualitinya. Demikian juga seorang mukmin jika panjang usianya maka bertambah kebaikan dan amal sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr, beliau berkata:

أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Seorang a’robiy bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah siapakah orang yang terbaik? Rasulullah n bmenjawab: “Orang yang panjang umur dan baik amalannya”.[22]

  1. Pohon kurma tidak pernah berhenti memberi manfaat walaupun gagal berbuah. Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan sabutnya untuk kegunaan yang banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak pernah lepas daripada kebaikan. Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga daripada berbuat kejelekan, sebagaimana sabda rasulullah:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

Maukah kalian aku beritahu orang terbaik dari terjelek daripada kalian. Lalu beliau mengulanginya tiga kali. Lalu seorang bertanya: “Wahai Rasulullah beritahulah kami tentang orang terbaik dari terjelek daripada kami” Rasulullah menjawab: “orang terbaik daripada kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman daripada kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan manusia tidak aman daripada kejelekannya”.[23]

 

Imam Ikrimah menafsirkan firman Allah : كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ dengan menyatakan: “Dialah pohon kurma yang senantiasa memberi manfaat”.[24]

 

Demikian juga seorang mukmin senantiasa memberi manfaat sesuai dengan bahagian dan kekuatan imannya.

  1. Pohon kurma mudah dipetik buahnya kerana pohon kurma kadang-kala pendek sehingga mudah memetiknya dan kadang-kala tinggi dan besar. Walaupun besar masih mudah memanjatnya dibandingkan dengan memanjat pohon lain yang setingginya. Ini kerana terdapat tangga dan tempat memijak sehingga ke atas. Demikian juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.

 

  1. Buah kurma termasuk buah yang paling bermanfaat kerana ruthabnya dimakan sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan daripadanya cuka dan pemanis. Kurma juga dibuat sebagai ubat dan minuman. Manfaatnya sudah cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki keumuman manfaat dan keaneka ragaman kebaikan dan kebagusaannya.

Ditambah lagi buah kurma memiliki rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh kerana itu Rasululah bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga perkara, jika seorang memilikinya eiscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai daripada yang lainnya dan mencintai seseorang hanya kerana Allah serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.[25]

 

Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh menyatakan: “Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini kerana Allah menyerupakan iman dengan pohon dalam firmanNya:

 

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

Kalimat didalam ayat ini adalah kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan”.[26]

  1. Persamaan sifat pohon kurma dengan sifat mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan: “Sebahagian orang ada yang telah menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat pohon kurma) dengan sifat muslim. Mereka menjadikan setiap manfaat darinya dihadapkan dengan satu sifat muslim. Ketika sampai pada duri pohon kurma, maka dihadapkan kepada sifat keras dan tegas terhadap musuh Allah dan orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan terhadap mereka  (para musuh tersebut) seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap mukmin yang taqwa seperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah berfirman:

أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka:. (QS. 48:29) [27]

oleh kerana itu para ulama yang terkenal keras dan tegas dalam membantaha orang-orang bathil dinamakan duri dileher mereka.

 

Demikianlah di antara persamaan yang ada. Para pensyarah hadits ini memberikan beberapa persamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebahagiannya batil. Imam Ibnu Hajar telah meringkasnya di dalam kitab Fathul Bariy dengan menyatakan: Adapun orang yang menganggap letak persamaan di antara muslim dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong kepalanya ia akan mati, atau kerana pohon kurma tidak berbuah tanpa perkahwinan, atau ia mati dengan ditenggelamkan, atau bau putik sarinya seperti mani manusia atau ia minum daripada bagian atasnya. Semuanya ini lemah, kerana sisi persamaan tersebut juga untuk seluruh manusia tidak khusus kepada muslim. Yang lebih lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon kurma diciptakan daripada tanah sisa penciptaan adam kerana hadits yang menunjukkannya tidak shohih, Wallahu alaam.[28]

Dengan demikian telah kita ketahui iman adalah pohon mubarokah yang memiliki manfaat dan faedah besar serta buah hasil. Iman memiliki tempat khusus penanaman dan siraman khusus, juga memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya adalah hati seorang mukmin, siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun iman yang enam. Sedangkan cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatana yang beraneka ragam yang dilakukan seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan seorang mukmin didunia dan akherat. Inilah diantara buah dan hasil iman. Wallahu alam bis Showaab.

Faedah yang diambil dari Hadits.

 

Diantara faedah yang diambil dari hadits ini adalah:

 

  1. orang yang diberi teka-teki hendaklah memerhatikan indicator yang menunjukkan jawapannya.
  2. Ujian seorang alim terhadap muridnya tentang sesuatu yang belum jelas dan menjelaskannya jika mereka belum faham.
  3. Motivasi untuk memamahami ilmu. Imam Bukhori membuat bab untuk hadits ini bab Fahm fil Ilmu
  4. Dhorbul Amtsal dan asybah untuk menambah faham
  5. Soal jawab.
  6. Penggambaran makna untuk mengukuhkan pemahaman
  7. Tasybih sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama di dalam setiap sisi
  8. Imam memberikan permasalahan kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang dimiliki mereka. (Bukhori)
  9. Ulama besar kadang-kala tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang dibawahnya kerana ilmu itu pemberian Allah.
  10. Malu dianggap baik selama tidak melepaskan maslahat yang ada.
  11. Mengutamakan orang yang lebih tua.

Wassalam

Di edit oleh Abu Usamah

 

http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/32189


[1] Syarah Shohih Muslim 17/152 dan lihat juga Fathul Bariy 1/146

[2] Lihat Mu’jamul Wasith 1/45

[3] Fathul Bariy 1/146

[4] Lihat makalah Syeikh Abdirrozaaq Al ‘Abaad dalam majalah Al Jaami’ah Al Islamiyah  edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 205

 

[5] dibawakan Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy 1/147

[6] sisi kesamaan ini diambil dan disadur daripada makalah yang berjudul Taammulaat Fi Mumatsalatul Mukmin Bin Nahlah, tulisan Syeikh DR. Abdurrozaq bin Abdilmuhsin Al ‘Abaad dalam majalah Al Jaami’ah Al Islamiyah  edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 209-221. dengan penambahan dan pengurangan.

[7] Assunah karya Abdullah bin Ahmad 1/316

 

[8] Tafsir Al baghowi 3/33.

[9] Al fawaa’id hal 214-215

 

[10] Diriwayatkan oleh Al-laalikaa’iy dalam syarah ushul I’tiqad 5/959

[11] dibawakan oleh Abu Ya’la dalam Thobaqatul Hanabilah 1/259

 

[12] mutafaqun ‘alihi

[13] Busr adalah kurma yang belum matang menjadi ruthab sedangkan Ruthob adalah kurma matang yang masih belum meleleh atau mengeras.

[14] Disampaikan oleh AL Baghowiy dalam tafsirnya 3/33

 

[15] Tafsir Thobariy 8/210.

[16] diriwayatkan oleh Bukhori dalam shohihnya 3/444

[17]  Fathul Bari 1/145-146.

 

[18] Lihat fathul bari 1/145

[19] lihat tentang hal ini dalam Jami’ Al Ulum wal Hikaam hal. 368

[20] Miftah daris Sa’adah 1/116.

 

[21] Diriwayatkan oleh Ath Thobraniy dalam mu’jamul Kabir 12/ no.13514 dan AL hafidz Ibnu Hajar menyatakan: “Sanadnya shohih”.

 

[22] Sunan Tirmidzi 4/565 dan dishohihkan Al Albaniy dalam Shohih Sunan At Tirmidziy 2/271.

[23] Diriwayatkan imam At Tirmidziy dalam sunannya no. 2263 dan Ahmad no. 8456 dan dishohihkan Al Albani dalam shohih AL jaami’ no. 332

[24] disampaikan Atthobariy 8/205

[25] Mutafaqun ‘alaihi.

[26] Lihat fathul bari 1/60

[27] Miftah dari Sa’adah 1/120-121.

 

[28] Lihat Fathul Bariy 1/147.

 

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s