Bolehkah Qiaskan Babi Dengan Anjing

Babi Diqiaskan Kepada Anjing
oleh: Almarhum Ustaz Abdul Qadir Hassan (*)

Jawab:
Sebelum mendudukkan masalah yang ditanyakan itu, baiklah kita mengetahui dahulu
beberapa istilah, keterangan dan kaedah berikut ini :

1. Najis adalah kata-kata Arab, artinya kotor.
2. Najis pada istilah ulama ialah : kotoran yang menghalangi sahnya shalat,
maksudnya : sebelum shalat, kotoran-kotoran itu harus dibersuhkan lebih dahulu.
3. Najis dari sudut Agama ada 3 macam :
a) Najis yang disuruh kita membersihkannya (mencuci) berhubung dengan pekerjaan
shalat. Najis ini, yang ada keterangannya dari Agama, hanya 5 macam saja, yaitu
: kencing manusia, tahi manusia, darah haidh/nifas manusia, madzi manusia dan
wadi manusia; selain ini tidak ada keterangannya.
b) Najis dengan makna tidak boleh dimakan dan diminum , seperti : babi, bangkai,
darah binatang sembelihan tidak kerana Allah dan arak.
c) Najis yang berhubungan dengan i’tikad (kepercayaan), seperti orang-orang
musyrik dan yang seumpamanya.
4. Najis yang menurut istilah ulama itu dapat kita pakai asal ada dalilnya dari
Agama, bukan dalil fikiran atau perasaan ulama.
5. Tiap-tiap urusan atau benda keduniaan, menurut ketetapan, asalnya halal bagi
kita. Hanya boleh kita katakan ini haram, ini najis dan sebagainya, bila ada
dalilnya dari Qur’an atau Hadith.
6. Ulama-ulama ada membicarakan qias, ia bukanlah satu dasar yang mutlaq
sebagaimana Qur’an dan Hadith-hadith. Kita hanya menggunakan qias bila ada
jalan-jalannya yang tepat. Itu pun akan terdapat satu atau dua masalah sahaja.
7. Hendaklah diketahui bahwa tiap-tiap yang diharamkan Agama itu, tidak
semestinya najis.

Demikianlah dasar-dasar dari pembicaraan kita yang akan datang.
Sekarang mari kita melanjutkan masalah babi tersebut.
Orang yang mengatakan babi itu najis untuk dipegang, menggunakan beberapa alasan
:
Alasan pertama : Mereka merujuk pada surah al-An’am 146. Setelah Allah Swt
mengatakan babi itu haram untuk dimakan, lalu Allah iringi dengan kata-kata :
“…fa innahu rijsun”
Artinya :…Kerana sesungguhnya daging babi itu “rijsun”
“Rijsun” ini, mereka maknakan najis dipegang.

Bantahannya :
Perkataan rijsun yang berhubungnagn dengan babi, soalnya itu ialah soal makan,
bukan soal dipegang. Oleh kerana itu, rijsun di situ mesti kita makanakan najis
untuk dimakan, bukan yang lainnya.
Sekiranya rijsun di situ hendak kita artikan dengan najis dipegang, maka harus
juga kita katakan ia najis dilihat dan sebagainya dengan alasan lafaznya itu
umum.Tetapi untung dalam masalah babi ini tidak terdapat orang yang berkata babi
najis dilihat.

Alasan kedua : Mereka mengqiaskan babi kepada anjing. Mereka mengatakan anjing
itu najis; Agama menajiskan anjing kerana ada cacing yang disebut Taenia
achinococcus. Tania ini ada juga dalam babi. I’llat (sebab) dinajiskan anjing
sama dengan sebab diharamkan babi, yaitu taenia pada kedua-dua binatang
tersebut.

Bantahannya:
Seharusnya lebih dahulu kita memeriksa : adakah Agama menajiskan persentuhan
dengan anjing atau tidak, sebab soalnya kejurusan ini.
Yang ada keterangannya , hanya tentang anjing menjilat bejana sebagaimana sabda
Nabi Saw :
Artinya: Apabila anjing menjilat dalam bejana salah seorang dari kamu, hendaklah
ia buang airnya, lalu ia mencucinya 7 kali. (Muslim)
Dalam riwayat, Nabi bersabda: Yang pertama kalinya atau akhirnya (hendaklah
dicuci) dengan tanah.

Hadith Rasulullah Saw ini dengan nyata menunjukkan bahwa jilatan anjing dalam
bejana menjadi najis. Ini tidak berarti bahwa seluruh badan anjing itu juga
najis.
Hendaklah kita bedakan antara menjilat di bejana dengan menyentuh badan. Kedua
hal tersebut adalah berlainan.
Sebagai perbandingan : kencing manusia adalah najis. Orang yang setelah kencing,
diperintahkan mencuci tempat keluarnya kencing. Ini hukum Agama yang sudah kita
ketahui. Apakah dengan sebab kencing najis itu, lalu seluruh badan orang yang
kencing itu juga turut menjadi najis? Menurut qiasan anjing itu, mesti kita
katakan bahwa seluruh badan orang ini najis. Kalau najis, maka bila kita
bersentuh dengan orang yang baru kencing tetapi belum bersuci itu, harus kita
juga mencuci tempat kena sentuhan itu.
Tetapi kita maklum tidak ada orang yang berpendirian sedemikian, sebab bukan
demikian seharusnya. Begitu juga seharusnya dengan anjing.

Kemudian, ada riwayat-riwayat :
Artinya : Dari Ibnu Umar : adalah anjing-anjing kencing, datang dan pergi dalam
masjid di zaman Rasulullah Saw tetapi sahabat-sahabat tidak menyiram sedikit pun
dari yang demikian itu. (Bukhari)
dan
Artinya : Dari Abu Hurairah : Ada orang bertanya kepada Rasulullah Saw tentang
telaga-telaga yang ada di antara Makkah dan Madinah. Ada orang berkata :
Sesungguhnya anjing-anjing dan binatang-binatang buas meminum dari telaga-telaga
itu. Sabda Nabi : Bagi binatang-binatang itu apa-apa yang telah diambilnya dalam
perut-perutnya, dan bagi kita apa-apa yang ketinggalan, sebagai minuman yang
suci. (ad-Daraquthni dll)

Kedua riwayat ini menunjukkan bahwa anjing itu tidak najis. Sebab jika najis,
tentu masjid yang dimasuki anjing itu harus dicuci, dan air bekas minuman dalam
telaga itu tidak boleh diminum.
Sesudah kita mengetahui tidak ada keterangan yang menajiskan anjing, seperti
yang tersebut dalam bantahan pertama dan kedua, maka tidak ada jalan menajiskan
babi dengan mengqiaskan kepada anjing.Tetapi biarlah kita perbincangkan.

Mereka yang menghukumkan babi itu najis, kerana sebabnya bersamaan dengan sebab
yang ada pada anjing, yaitu cacing yang disebut taenia acchhinococcus. (1)
Baik, apakah Nabi Saw menyuruh mencuci jilatan anjing itu mutlak kerana ada nya
taenia itu?
Ini belum pasti, walaupun kita dapat mengetahui bahayanya. Tambahan pula dari
keterangan-keterangan yang saya sebutkan di atas, kita telah mengetahui bahwa
tidak ada keterangan yang menajiskan anjing untuk disentuhnya.

Dengan begini cara qias menajiskan babi itu tidak kena dan bukan pada tempatnya
Alasan ketiga : Untuk menguatkan qiasan yang ada di alasan kedua, mereka bawakan
Hadith Nabi Saw: Artinya : Barangsiapa bermain nardasyir seolah-olah ia
mencelupkan tangannya dalam daging babi dan darahnya. (Muslim)

Kata mereka : Nardasyir (dadu) itu hukumnya haram. Bermain nardasyir sama dengan
memegang daging babi dan darahnya.
Maka, memegang daging dan darahnya itu hukumnya sama dengan bermain nardasyir,
yaitu “haram” (najis).

Bantahannya :
Hadith Muslim tersebut sama sekali tidak munasabah dijadikan alasan najisnya
babi dan darahnya untuk dipegang, kerana :
1. Kalau sesuatu diqiaskan kepada yang lainnya, mestinya yang dijadikan tempat
berqias itu sudah diketahui hukumnya atau keadaannya atau sifatnya.
Kalau yang hendak diqiaskan babi kepada nardasyir, mestinya lebih dahulu kita
mengetahui hukum nardasyir itu. Adakah Agama mengharamkan nardasyir atau
menajiskan untuk dipegangnya?

Tentang nardasyir itu belum ada keterangan tentang haramnya atau najisnya dengan
mutlak
Dalam perkara ini ulama masih berselisih faham.
Maka, sekira hendak diqiaskan “nardasyir” kepada babi, maka hukum babi kita
sudah ketahui, yaitu haram (untuk dimakan), paling banyak dapat kita katakan
haram bermain nardasyir, bukan haram memegangnya.

2. Perkataan “seolah-olah” dan yang semisalnya itu belum menjadi sesuatu kaedah
tentang persamaan hukum antara sesuatu dengan yang diseolah-olahkan.
Tetapi kata-kata seolah-olah itu hendak menunjukkan kepada keburukan ( atau
kebaikan) sesuatu.
Sebagai contoh, mari kita perhatikan Hadith ini :
Artinya : Barangsiapa menutup cacat seorang Muslim, maka seolah-olah ia
menghidupkan orang yang mati. (Thabarani)

Menurut cara qias babi dan nardasyir yang tersebut di atas, akan kita dapati
begini : Menutup cacat seorang Muslim, hukumnya wajib. Menutup cacat orang
Muslim sama dengan menghidupkan orang mati. Kesimpulannya : Menghidupkan orang
mati menjadi wajib pula.
Mustahil Allah Swt mewajibkan kita menghidupkan orang yang sudah mati. Tetapi
hal-hal luar biasa seperti inilah yang akan timbul apabila kita hendak
berqias-qiasan.

Ringkasnya :
a) Babi itu najis untuk dimakan : tidak ada keterangan yang menetapkan najis
untuk dipegang atau disentuh.
b) Anjing bila menjilat sesuatu bejana, disuruh kita mencuci bejana itu, tidak
ada keterangan yang mengatakan najis menyentuh anjing.
c) Alasan-alasan orang hendak menajiskan persentuhan dengan babi atau dengan
anjing, tidak ada yang dapat diterima kebenarannya.
d) Oleh kerana itu jalan-jalan mengqias anjing kepada babi , atau mengqias babi
kepada anjing itu pun menjadi tidak benar.
e) Imam Malik berkata : anjing itu suci
d) Kata Imam Malik lagi : buruan dengan anjing itu boleh dimakan(2) maka
bagaimana patut dimakruhkan air liurnya? Ucapan ini hendak menunjukkan bahwa
air liur anjing tidak najis.

(*) Almarhum adalah anak kepada A.Hassan Bandung. Meninggal pada tahun 1984.
Beliau semasa hidupnya, diberi kepercayaan oleh Rabithah ‘Alam Al-Islami (Liga
Islam Sedunia)di Majlis Fiqih

(1) Menurut Alg. Uezonheidsleer 1, hal 88, bahwa cacing itu mendatang juga pada
babi, manusia, lembu, kambing dll. Semestinya ahli qias menajiskan juga manusia,
lembu dan kambing kerana ‘illah yang ada pada binatang-binatang itu sama dengan
yang ada pada anjing.
(2) Kerana ada Ayat dan Hadith-hadith yang membenarkan kita memakan binatang
yang diburu dan dibawa dengan gigitan anjing.

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s